[TIPS : Bagaimana Menyikapi Dosen Pembimbing yang Galak? Begini Loh Cara Mengatasinya]

Gambar hanya pemanis saja, hidup warna warni (sumber gambar pribadi)

Kuliah itu bisa dikatakan masa perjuangan, masa pencarian jati diri. Perubahan dari masa waktu sekolah berseragam putih abu-abu menuju masa di mana lebih difokuskan dengan cita-cita yang diinginkan, sesuai dengan jurusan. Namun, ada juga yang berani mendobrak dengan memilih jurusan sesuai dengan prospek masa depannya. Apa pun jurusan yang dipilih pasti sudah mempertimbangkan. Saya mengalami masa kuliah dua kali, di jenjang diploma dan ekstensi strata 1. Melalui postingan ini, saya ingin berbagi cerita tentang perjuangan demi kata lulus pada jenjang strata 1. Perlu beberapa tahun semenjak lulus, saya baru bisa bercerita.

Masih sangat teringat jelas dalam benak saya, bagaimana perjuangan untuk memperoleh gelar sarjana teknik pada waktu itu. Melanjutkan pendidikan dalam proses sambil bekerja, membuat saya sangat sibuk dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Bagaimana tidak? Senin sampai Jumat, saya menjadi karyawan, kadang Selasa Kamis Sabtu Minggu saya menjadi mahasiswi. Ya, berangkat subuh hingga pulang sampai jam 1 pagi pun sampai rumah pernah saya rasakan sewaktu masa perjuangan itu. Kok bisa sampai rumah jam 1 pagi, ya, bisa dong. Saya dulu kuliah di daerah perbatasan Jakarta Depok, saat itu ada kuliah di mana baru kelar jam 10 malam. Dalam perjalanan pulang, saya menggunakan transportasi publik, yakni kereta.

Waktu tempuh dari kampus ke rumah, kalau lancar tuh sekitar 2 jam, dalam arti keretanya cepat. Sampai di Manggarai, sudah pergantian hari pun sudah pernah saya rasakan. Oh, perjuangan hidup, gumamku dalam hati. Dan besok pagi, berubah status dari mahasiswi menjadi karyawan swasta lagi. Hampir satu setengah tahun merasakan hal tersebut. Hingga tiba saatnya untuk mengajukan skripsi. Dalam tugas akhir, obyek yang ini saya bahas mengenai kepuasan pelanggan. Saya berfikir bisa menganalisis dengan metode SWOT. 

Berhubung, mengambil mengenai kepuasan pelanggan, maka tempat untuk mencari data di rumah sakit. Ya, melakukan observasi tentang bagian rumah sakit yang tingkat kepuasan pasien masih sedikit (masih kurang dari standar kepuasan pasien di level tinggi  yakni, sangat puas). Setelah, berdiskusi dengan kepala bagian sumber daya manusia di sana, akhirnya obyek skripsiku mengarah ke bagian Farmasi. Ya, bagian yang ditunjuk untuk membuat obat atau resep pasien. Dalam mengambil data, lumayan menyita waktu. Oh iya, dalam memilih pembimbing skripsi ini emang sesuai dengan pilihan pertama, yakni dosen  yang dikenal super galak di jurusan kami, Teknik Industri hahaha. Sosoknya, sebagai dosen perempuan yang dikenal sangat perfeksionis sekali. 

Saya dulu mempunyai pikiran begini, jika beliau jadi dosen pembimbing saya, setidaknya, saat disidang tidak dapat dosen penguji beliau hahaha. Eh, ternyata, saat bimbingan, susah banget, karena mungkin sifatnya terlalu perfeksionis kali, ya. Hidup penuh dengan coretan, revisi berulang-ulang. Bisa dikatakan, saat waktu itu kesehatan mental saya tidak baik. Untungnya, issue kesehatan mental saat waktu itu belum seramai saat ini, bisa dikatakan saya sempat frustasi saat skripsi ekstensi dulu, fuh. Menulis tentang tema ini, saya sering menghela nafas, begitu kuatnya mental saya saat bimbingan dulu. Dalam arti, saya perempuan kok bisa kuat ya, padahal teman saya lelaki sampai mengulang tahun berikutnya, karena sudah tidak kuat bimbingan dengan beliau.

Nah, melalui postingan ini, saya ingin menguatkan kamu yang sedang berjuang demi kata lulus dan sebuah gelar akademik yang sudah diimpikan. Tips menghadapi dosen pembimbing yang galak, semoga bermanfaat :)

1. Kuatkan Mentalmu Saat Bimbingan
Hal pertama, kamu harus mempunyai mental yang kuat. Saya tahu rasanya, di saat jadwal bimbingan sudah ada, pasti rasanya berdebar ketemu dosen pembimbing. Tak ada yang bisa menyemangati dirimu, selain dirimu sendiri. Baca doa dan anggap saja segala ocehan dari dospem (dosen pembimbing) itu sebagai wejangan. Mau ocehan baik atau buruk telan aja. Ya, belajar mental sebelum memasuki dunia pekerjaan

2. Ambil Judul yang Relevan dengan Tema 
Judul, itu kuncinya. Sebelum menentukan judul, alangkah baiknya, kamu sudah melakukan riset. Saya dulu, sebelum menentukan judul dan permasalahan, harus sebar kuesioner dulu, fuuuuh. Ingat, permasalahan apa yang perlu diperbaiki, pakai cara apa, tujuannya apa, riset itu penting, teman! Menentukan judul aja bisa sampai satu bulan, belum membahas permasalahan dan tujuanya. Tapi, ingatlah masa perjuangannya bisa membuatmu rindu suatu saat nanti (proses untuk bertahan).

3. Jangan Patah Semangat dan Teruslah Berjuang
Saya tahu, mengerjakan skripsi itu ibaratnya final dari menempuh akademik. Dan mempersembahkan gelar kepada orang tuamu, wajib adanya. Saya yakin dengan dukungan dari orang tua, teman terdekat, pasti mampu melewati badai skripsi hihihi. Lelah revisian? Sudah pernah saya lalui, kenyang karena dapat wejangan? Sudah pasti. Gimana rasanya? Capek, lelah pikiran dan beban pasti berselimut menjadi satu. 

Yayaya, bayangkan, saya selama ngerjain revisian dulu sampai tidak tidur, begadang, jam tidur amburadul, sering pusing, alhasil dibantu dengan vitamin dan banyak makan cokelat haha. Selama seminar 1 sampai seminar 2, aman-aman aja, eh pas sidang skripsi puncaknya, duaaaar. Disuruh ganti metode, dan setiap hari ke perpustakaan, baca-baca buku referensi. Sebar kuesioner, mengolah data sampai menarik kesimpulan. Alhasil, pada saat sidang, saya hanya revisi tanda baca sama satu kesimpulan saja. Bersyukur, yang lain pada revisi bab, tujuan, permasalahan hingga metode, saya revisi hanya sekilas. 

Emang, ya, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil, berjuang sampai lelah, tidak tidur, sampai dapat wejangan setiap hari. Membayangkan, betapa kuatnya mental saya dulu, setiap berkomunikasi dan menemui beliau. Untuk beliau, dosen pembimbing saya, terima kasih sudah membentuk mental saya sekuat baja wkwk. Di mana harus kuat terhadap tempaan yang menghantam. Pada sidang skripsi, karena dosen pembimbing saya terkenal dengan super galak, alhasil dosen penguji bertanya hanya biasa aja. Lebih susah pertanyaan dosen pembimbing sendiri saat bimbingan daripada sidang.

Perjuangan itu, masih saya kenang sebagai perjalanan hidup saya, semoga tetap menjadi pribadi yang gigih dan bermental baja. Tidak takut sama halangan menyapa. Mungkin, efek gemini kali ya, nekat. Nekat memilih dosen pembimbing galak eh malah kesusahan sendiri. Hahaha. Tapi kalau tidak begitu, tidak berwarna skirpsi saya. Terlalu banyak warna hingga saya menemukan pelangi di ujung sana, yakni, wisuda. Uhuyyyyy. Cukup segini saja yang bisa diceritakan, kalau semuanya, kalian pasti sedih menjadi saya hihihi.

Untuk kamu, yang sedang berjuang dalam hal akademik, ataupun lainnya, selamat berjuang, minta restu orang tua dan berdoalah kepadaNya, agar diberikan kelancaran. Tetap semangat!


32 komentar

  1. Syukurnya pas skripsi kuliah S1 dosen pembimbing baik semua,,,,yg ngeselin ada satu dosen mata kuliah.....gak pernah lupa deh....killer abis

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti ada cerita ya mbak, masa perjuangan itu, kuliah.

      Hapus
  2. Tips yang bagus banget. Cocok nih saya bagikan ke mahasiswa saya. Biar tetap semangat menyusun karya ilmiah dan lulus dengan nilai yang memuaskan

    BalasHapus
  3. Justru dosen pembimbing galak malah bikin semangat ya,segera kelar dan serius mengerjakannya. Kalo kita serius pasti juga beliau akan membantu dengan serius, dan cepet lulus kaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada plus minusnya sih, selain itu menguji mental juga.

      Hapus
  4. Hihihi serasa napak tilas, saya juga kuliah sambil kerja
    Bedanya saya kost dekat campus, hanya sekitar 5 menit karena pernah kecopetan waktu kost agak jauh dan bikin trauma

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada cerita ya mbak dibalik setiap perjuangannya.

      Hapus
  5. Dibandingkan tentang pembimbing galaknya, aku malah lebih deg-degan baca bagian dirimu kelar kuliah jam 10 malam dan tengah malam masih di stasiun kereta api.... Perjuangan banget :(

    BalasHapus
  6. Memang bimbingan skripsi/thesis itu adalah sebuah seni. Ada teknik dan juga Strategi. Dan jangan baper. Dosen juga manusia Ada lelahnya. Begitupula dengan mahasiswa. Harus dihargai usahanya.

    BalasHapus
  7. Wah, sharing yang bermanfaat bagi yang menghadapi dosen pembimbing galak ini
    Tapi ada hikmahnya ya Mbak, karena sudah digalakin dosen pembimbing jadi siap saat ujian . Ketemu dosen penguji jadi sudah lebih kuat mentalnya.
    Aku dulu tahun 1998- akhir S1 pas skripsi dah dapat kerja, jadi kerja sambil ngerjain skripsi...memang berat, syukur dosen baik baik pembimbing maupun pengujinya. Dan senangnya, selesai wisuda ga bingung cari kerja karena memang dah kerja.

    BalasHapus
  8. Daku pernah ngenes mbak sama dosen pembimbing. Kan udah ngajuin judul ya 3, nah 2 judul daku udah siap banget sama bahannya, eh ternyata dosen pembimbing malah milih judul yang daku belum siap bahannya. Asli jadilah ribet nian, haha. Tapi itu jadi pengalaman berharga banget

    BalasHapus
  9. Aku masih ok lah sama dosen yg niatnya baik saat ngebimbing dengan galak. Tp kalo yg segala salah kyk banyak kasus skrg tuh rada sedih.

    Kasian liat curhatan di sosmed, hahah... Tp suka liat dosen2 baik juga yg anak2 muda ini ceritain si

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang, kalau mentalnya nggak kuat bisa bikin ngedown, mbak.

      Hapus
  10. Jadi inget bangeeet ini perjuangan mencari cari dosen pembimbing

    alhamdulillaaah dapat dosen yang keren banget, pengertian bahkan waktu itu dibantuin pas sidang! Barakallaaaah pa Hasroel Thayeb

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaahhhh, alhamdulilah dapat dosen yang baik ya, mak Tanti

      Hapus
  11. Waktu kuliah, aku sering juga mendengar isu ini.
    Alhamdullillah, aku belum pernah mengalami sendiri.

    Tapi aku setuju, pasti pengalaman ini bikin hidup berwarna-warni bagai pelangi.
    Ambil saja hikmahnya!
    Buktinya, bisa jadi ide postingan blog, yekan, mpok :)



    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, ini menulisnya harus ada rentang waktu beberapa tahun, Kak.

      Hapus
  12. Waah kita samaaa Gemini :D. Salut mba, bisa kerja sambil kuliah. Dulu suamiku ambil master juga gitu, Nyambi Ama kerja . Pagi kerja, malamnya kuliah.

    Sayangnya, pas kuliah aku g mendapat guru2 galak. Dulu aku aku kuliah di malaysia, dan kebanyakan dosennya malah orang asing yg direkrut sebagai dosen. Dan pada baik2 masalahnya :D. Jadi cobaan mental kayak yg mba rasain jujur aku ga ngerasain. Kurang tertempa jadinya :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, alhamdulilah ya mbak, dirimu kuliahnya lancar-lancar.

      Hapus
  13. Saya baru tau kalau kamu dulu kuliah dan bekerja di satu waktu. Itu betul2 menguras tenaga. Ah kamu tangguh sekali yaaa...

    BalasHapus
  14. Artukelnya cocok dobaca anak saya nih yang bentar lagi selesai kuliahnya.

    Kalo saya dulu Alhamdulillah dapat dosen pembimbing yang dua-duanya baik pake banget. Bahkan ngasi masukan yang sangat berguna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaah, beruntungnya dapat dosen pembimbing yang baik.

      Hapus
  15. Hiks sedih Tis kalau bicara soal persiapan skripsi wkkwkw aku mandek di, pengajuan judul wakakka. Semoga ada rejki bisa nyambung lagi kulaih diriku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...semoga ada rezeki ya Nyi untuk lanjut lagi.

      Hapus
  16. Kadang dosen galak itu gan ngenakin. Bikin kita was-was dan nervus dekat dia. Tapi kalau dipikir-pikir, kalau galaknya untuk pendidikan kita sendiri, ada bagusnya juga ya. Kitanya jadi well prepared untuk membuat dan menyiapkan penelitian :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ada sisi baiknya juga jadi teratur ngerjain skripsinya.

      Hapus

Yuk berkomentar di blog saya, saling berbagi informasi untuk orang lain juga :)

Mohon untuk tidak berkomentar dengan menggunakan link hidup :)

Terima kasih sudah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya di blog kalian ya :D