Pengikut

Ikhlas Bersama Waktu

Ikhlas! Apa sih pengertian dari kata "ikhlas" ? Kalau menurut pendapat pribadi saya, ikhlas seperti mencari air di padang pasir, susah sekali ditemukan dan perlu perjuangan untuk bisa mendapatkan air tersebut. Bisa diibaratkan, seperti itulah kata ikhlas, mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dijalani. Jika memang masih sulit untuk dijalani sesuai dengan kenyataan, namanya belum ikhlas. Jika berbicara mengenai keikhlasan maka kita akan tertuju ke sebuah peristiwa, entah itu peristiwa yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Namun dibalik kata "ikhlas" banyak hikmah yang tersembunyi dimana akan bermanfaat untuk kehidupan di lain waktu nanti. Bisa dikatakan "ikhlas" adalah pengalaman hidup terbaik yang harus dipunyai setiap manusia agar bisa menjadikan pribadi yang lebih plong dan menikmati hidup sesuai dengan kenyataan. Berikut ini adalah pengalaman saya bersama dengan kata ikhlas dimana berjudul "Ikhlas Bersama Waktu".

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2012 lalu, tepatnya bulan Mei. Masih teringat di benak saya sampai saat ini, entah kenapa pada awalnya saya sulit untuk "bersahabat" dengan kata ikhlas. Begini peristiwanya, saat menginjak perkuliahan di semester terakhir alias enam, dimana pada saat itu kakak pertama saya melepaskan masa lajangnya. Lalu, apa hubungannya antara ikhlas dan pernikahan kakak pertama saya? Hubungannya adalah ikatan batin antara seorang adik dan kakak, dimana tepatnya saya belum mengikhlaskan untuk melepas kakak saya ke orang lain (read : pernikahan). Banyak alasan yang mendasari pada waktu itu saya belum ikhlas, salah satunya adalah belum kesiapan diri secara waktu jika harus berpisah dengan kakak saya. FYI saja, kakak saya ini adalah lelaki loh. Siapa sih yang tidak senang menuju hari bahagia, sebuah pelaminan yang didambakan bersama dengan pasangan jiwa yang diidamkan? Semua orang juga mau menikah sesuai dengan pasangan jiwanya, begitupun dengan kakak saya. Bukannya, saya tidak ikhlas pada saat itu "tidak mau melepaskan" kakak saya ke orang lain, namun saya belum siap! Belum siap disini adalah tidak mau melepaskan kebersamaan selama ini.


sumber gambar : pribadi

Ketika Kakak pertama saya melangsungkan pernikahannya.

Sejujurnya, ketika ditanya siapakah orang yang paling berat melepaskan kakak saya untuk menikah? Bukan di orang tua jawabannya, tetapi di saya, adiknya. Ketika menuliskan ini kembali rasanya tidak kuat untuk menahan air mata ini berjatuhan, bukan karena lebay namun beginilah saya terlalu terbawa "perasaan". Saya dan kakak pertama adalah sudah dikatakan sebagai teman, sahabat dimana yang merangkap sebagai pelindung saya, dalam arti "berasa sekali dilindungi" oleh seorang lelaki. Dialah panutan saya, dialah penyemangat saya untuk terus berusaha untuk mewujudkan mimpi, dia juga dengan sabar mengajari saya ketika ada PR. Pasti kalian, adik perempuan akan "berasa" kehilangan ketika hari pernikahan kakaknya sudah tiba. Bayangkan saya, setiap harinya kalian menghabiskan waktu sehari-hari bersamanya dimulai dari bangun tidur  sudah bertemu, sarapan hingga menonton televisi serta bercanda bersama juga. Bayangkan juga, sudah berapa moment yang saya lewatkan bersama kakak saya, dimulai dari masa TK hingga masa perkuliahan. Moment yang dilewatkan pun beragam dari pulang kuliah selalu bersama, dia (kakak saya) dengan sabar menunggu / menjemput saya, hingga pernah sampai ngemall bersama juga.


Dan masa keikhlasan itu tiba tepatnya 6 Mei 2012 lalu, dimana kakak pertama akhirnya melepaskan masa lajangnya dengan mempersunting seorang wanita pujaannya di gedung pusdiklat PLN- Ragunan. Pas saat akad nikah, air mata ini tak kunjung berhenti, saya senang melihat kakak saya menikah namun saya juga sedih "kehilangan kebersamaan" sama dia. Tepat hari itu juga, saya memulai belajar ikhlas dimana saya memulai "mengikhlaskan" kehilangan "kebersamaan" sama kakak saya. Ikhlas menurut saya adalah proses menuju masa kedewasaan, dimulai dari hati dan harus dibuktikan dengan tindakan di dunia nyata. Ikhlas seperti halnya "menggapai" cita-cita perlu namanya perjuangan, perjuangan untuk bisa menerima "kenyataan" hidup dan mencoba untuk tetap survive apapun hasilnya. Ikhlas, bahwa ketika masa dewasa sudah tiba, maka kebersamaan waktu masa kecil hingga masa remaja saya bersama kakak saya tidak akan bisa diulang lagi. Karena hidup adalah keikhlasan, jadi ambil hikmah dari proses keikhlasan tersebut, percaya deh "selalu" ada hikmah yang terselip dibalik proses "keikhlasan" tersebut. Seperti, yang saya rasakan saat ini, sekarang saya sudah terbiasa tidak bisa lagi merasakan kebersamaan sama kakak saya sepenuhnya, namun saya tetap bersyukur karena keikhlasan adalah gerbang untuk menjadikan pribadi menjadi lebih baik. Melalui keikhlasan ini saya merasakan bahwa kehidupan manusia adalah untuk dijalani apapun moment yang dilewatkannya di setiap langkah.



Hargailah setiap moment yang Anda lewatkan bersama dengan orang tersayang entah itu keluarga ataupun kakak, karena waktu tidak bisa diputar kembali dan yang tersisa bagaimana cara kita menyikapi proses tersebut dengan ikhlas. Kehilangan kebersamaan yang tak bisa dirasakan sepenuhnya lagi, ada rasa yang terganjal dan kerinduan itu akan bisa terbalas jika kamu bisa mengikhlaskan untuk proses yang kamu lewati. Pasti yang pernah merasakan seperti saya, sudah pasti mengetahui rasanya bagaimana ketika seorang kakak yang sangat dekat dengan kita menikah. Yuuuuuk belajar keikhlasan dan ikhlas itu menenangkan hati serta pikiran loh :)


Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS



39 komentar:

  1. g kbayang rasanya ditinggl kakak nikah ya mbk....kondisinya pasti beda ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mbak, kebersamaannya berbeda :)

      Hapus
  2. sukaa dengan tulisan ini:

    "Hargailah setiap moment yang Anda lewatkan bersama dengan orang tersayang entah itu keluarga ataupun kakak, karena waktu tidak bisa diputar kembali dan yang tersisa bagaimana cara kita menyikapi proses tersebut dengan ikhlas. Kehilangan kebersamaan yang tak bisa dirasakan sepenuhnya lagi, ada rasa yang terganjal dan kerinduan itu akan bisa terbalas jika kamu bisa mengikhlaskan untuk proses yang kamu lewati."
    aku juga ikutan maak...ntar antri dulu nulisnya....

    BalasHapus
  3. Mempraktekkan kata ikhlas memang tak semudah mengucapkannya ya, Mak. Sulit! Tapi jika memang tuntutan untuk itu sudah di depan mata, terkadang, walau berat, hati kita biasanya bersedia untuk berkompromi, hehe. Namun, untuk hal2 tertentu, terkadang hati juga susah dibujuk. Hayyah! :D
    Sukses untuk ngontesnya ya, Mak, semoga menang! :)

    BalasHapus
  4. suka banget dg paragraf terakhirnya
    setiap moment memang indah. Jadi jangan sia-siakan tiap momen sblm momen indah itu ilang. Entah krn perpisahan, waktu, dll

    BalasHapus
  5. Subhanallah,,ikhlas itu bener2 sesuatu ya,,mbak Titis cantik deh,,,

    BalasHapus
  6. Benar, Tis. Dan, bahagia akan bertambah, jika sudah keluar ponakan yang lucu. :D Jadi, tambah ikhlas deh. :)

    BalasHapus
  7. Kehilangan moment yang indah mungkin sangat memilukan.. Salam kenal

    belajar-berkata.blogspot.com

    BalasHapus
  8. Maknanya begitu dalam yang tersirat dalam artikel bertema keikhlasan hati :)

    BalasHapus
  9. melepaskan sang kakak yang menempuh hidup baru,,memang agak berat...apalagi bila sering bersama sang kakak selama ini...namun itulah hidup,,,ada yang harus dillepaskan dan ada yang harus dipertahankan,,,,
    selamat berlomba,,semoga menjadi yang terbaik...
    keep happy blogging always...salam dari makassar :-)

    BalasHapus
  10. sepertinya si bos sayang banget yia sama kakanya...

    ikhlas dalam arti sebenarnya memang ga gampang yia bos, tapi kalo mau belajar ikhlas pasti bisa yia bos...

    BalasHapus
  11. Kalau sudah kadung dekat memang nggak mudah jika berpisah ya mbak

    BalasHapus
  12. Ikhlas itu memang susah. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Semoga kita semua bisa ikhlas...

    BalasHapus
  13. itulah namanya siklus hidup mba, toh nanti kaya gtu juga:)
    btw salam kenal ya, singgah ke blog ya:)

    BalasHapus
  14. bener banget, ikhlas itu emang menenangkan hati serta pikiran :')
    salam kenal mbak...

    BalasHapus
  15. cie kakanya nikah, titis kapan?

    BalasHapus
  16. ikhlas seperti orang yang buang hajat,,,,,,
    setelah dibuang hajatnya tak pernah terpiker kembali seberapa banyak dan sedkitnya.... dibiarkan begitu saja.... asalkan diri yg membungnya segera membersihkan bekasnya....

    BalasHapus
  17. aku belum pernah punya kakak laki2 meski itu salah satu harapanku sejak kecil.. tapi hubungan yang amat akrab itu bikin sulit untuk berpisah ya meski pisahnya untuk kebahagiaan... ikhlas itu perlu latihan khusus. makasih sudah ikut give awayku ya

    BalasHapus
  18. aku belum pernah punya kakak laki2 meski itu salah satu harapanku sejak kecil.. tapi hubungan yang amat akrab itu bikin sulit untuk berpisah ya meski pisahnya untuk kebahagiaan... ikhlas itu perlu latihan khusus. makasih sudah ikut give awayku ya

    BalasHapus

Yuk berkomentar di blog saya, saling berbagi informasi untuk orang lain juga :)

Terima kasih sudah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya di blog kalian ya :D