Pengikut

Derita Comutterline Mania

Halooooo para blogger, gimana ngeblognya? Untuk saat ini saya lagi dalam proses untuk "survive" dalam dunia blog, setidaknya seminggu sekali masih bisa update blog hehehe. Pada kesempatan ini saya ingin sharing mengenai aktivitas sehari-hari dimana menggunakan jasa comutterline untuk menyupport aktivitas. Ya, bagi saya menggunakan jasa comutterline dimana setiap harinya harus berjuang dan ber"kejar-kejaran" untuk mendapatkan kereta. Sudah pernah merasakan gimana harus berjuang "masuk" ke dalam gerbong kereta api dan berhimpitan yang rasanya sesak napas? Jika iya, selamat Anda termasuk Comutterline mania sejati, orang yang pantang menyerah menyerbu setiap gerbong yang masih "kosong"' untuk sekedar masuk ke dalam gerbong kereta apinya. Jika belum, maka Anda harus menyiapkan "mental baja" dimana harus kuat ketika ada himpitan dan desakan dari penumpang lainnya, jangankan untuk bergerak untuk sekedar menghela napas aja susah fuuuuuh. Sekedar berbagi pengalaman saja ketika saya menggunakan jasa kereta comutterline Jabodetabek.

Setiap pagi dan sore dengan setia saya menggunakan jasa comutterline, kenapa saya menggunakan jasa comutterline? Ya, berhubung jarak kantor saya terjangkau dengan comutterline maka saya lebih baik menggunakan kereta api dan yang kedua berhubung daerah Kebun Sirih itu satu arah jadi saya lebih baik jalan kaki dari stasiun ke kantor (kalau naik bus harus dari Pulogadung). Berikut adalah "derita" pengguna setia jasa kereta api comutterline :

Sumber : Google

1. Berhimpitan / Berdesakan di Comutterline Sudah Hal yang Biasa

    Berhimpitan dan berdesakan di comutterline sudah hal yang biasa kenapa? Ya, kalian harus tahu untuk bisa masuk kedalam gerbong kereta api itu perlu perjuangan karena keadaan di kereta khususnya di gerbong wanita luar biasa penuhnya. Saya termasuk orang yang nekat jika masih ada ruang kosong di kereta langsung saja masuk ke kereta, pernah suatu hari saya "mangalah" untuk tidak masuk ke gerbong tersebut alhasil saya harus menunggu lebih dari satu jam lagi hikks.

2. Sesak Napas dan Sulitnya Menghela Napas Ketika Comutterline Jam Kerja (Pagi dan Sore )

    Bagi kamu yang setiap hari bersahabat dengan kereta api comutterline apalagi yang menemani berangkat dan pulang kerja dapat dipastikan bagaimana padatnya kereta, jangankan untuk mendapatkan tempat duduk, untuk masuk aja rasanya penuh perjuangan. Fuuuuh...rasa sesak napas tidak asing lagi bagi comutterline mania, untuk menghela napas aja rasanya butuh ruang dan waktu yang pas. Kalau keadaan lagi penuh, menghela napas aja seperti "mencuri" ruang dan waktu. Saya sudah pernah merasakan sesak napas tiba-tiba, maka untuk mengantisipasinya saya biasanya menyediakan air minum ataupun menghela napas hehehe.

3. Didorong-dorong di Kereta Bukan Hal yang Baru

    Didorong-dorong di kereta khususnya Comutterline bukan hal yang baru, untuk kalian bisa masuk ke dalam gerbong khusus wanita maka kalian harus siap di dorong-dorong. Apalagi jika kereta Anda transit di Stasiun Manggarai, karena di stasiun ini penumpangnya lebih "galak", kenapa? Ya, proses dorong mendorong akan terjadi disini. Bayangkan saja kamu ingin turun saja perlu didorong sama penumpang lainnya biar bisa keluar, karena pada dasarnya "mereka" yang di depan pintu tidak turun pada stasiun tersebut dan biasanya mereka turun di stasiun terakhir tetapi tidak mau masuk ke dalam sehingga menyulitkan kita yang mau turun.

4. Olahraga (Berlari) Mengejar Kereta

    Olahraga tidak hanya dilakukan setiap weekend (Sabtu/Minggu) untuk sekedar lari dalam mencari keringat. Setiap hari bagi saya adalah olahraga, jelas olahraga mengejar kereta. Berhubung saya naik dari Gondang Dia dan ketika di Kebun Sirih depan MNC sudah terdengar jelas bahwa sebentar lagi kereta jurusan Bekasi akan melintas, jika jaraknya masih cukup jauh maka saya akan santai saja berjalannya, namun jika sudah memasuki Stasiun Juanda / Gambir maka saya harus siap "olahraga" hihiihi.

5. Menunggu Kereta dengan Durasi Lama Sekali

    Jadwal Comutterline Jabodetabek yang sangat padat sekali dan berhubung setiap stasiun hanya mempunyai 2 rel saja, maka kereta Comutterline harus rela membagi rel dengan kereta Jawa yang lewat duluan. Kecuali pada stasiun tertentu saja kereta tersebut tidak tertahan karena sudah tersedia rel ganda. Saya sudah cukup kenyang ketika kereta "tertahan", saran saya bersabarlah hehehe.


Selamat deh! Bagi Anda yang setia menggunakan jasa Comutterline setiap hari kerja, Anda termasuk orang yang pantang menyerah dan gigih dalam memperjuangkan sesuatu, itu terlihat dari Anda mengejar kereta *eh. Siapa yang menggunakan jasa Comutterline juga? Yuk saling share pengalaman ^^

25 komentar:

  1. haha, begitulah perjuangan naik CL ya mbak Titis.. saya jg sering pulang-pergi kerja naik kereta. saking berjubelnya mau berdiri tegak saja susah. Pernah juga kaki terinjak waktu masinis mengerem kereta. Begitu saya turund dari kereta, baru nyadar hiasan pita yang nempel di sebelah sepatu saya hilang. Pffft..

    BalasHapus
  2. Duh....begitu ya Mak deritanya pulang pergi ke tempat kerja naik CL.. Secara aku gak pernah merasakan hal spt itu hatiku langsung merasakan bgmn perjuangan teman2 saat naik CL...sangat melelahkan ya..

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Saya belum pernah naik commuter line di jakarta. Tapi suasananya persis dengan saya saat naik bus asli atau murni saat kuliah dulu. Serem banget

    BalasHapus
  5. Saya belum pernah naik CL. Di Bandung angkotnya pada woles, harus ditiupin dulu kayaknya buat jalan hihi.... terakhir ngalamin jadi fans sopir angkot kudu rebutan masuk sampai kejar2an jaman kuliah dulu. Sekarang udah anyak yg bawa motor, jadi sepi tuh angkot Bandung.

    BalasHapus
  6. bener baget mba..saya pernah bolak balik 1 minggu aja rasanya gmna gitu barangkat subauh pulang jam 10 malem.. naik kerata dati stasiun UIemmmm bikinsaya banyak pahala (di baca banyak menguji kesabaran) hehehehe

    alhamdulillah.. sekarang sih udah jarang ada keperluan di jakarja.jadinya anteng hehehehe

    BalasHapus
  7. waduuuh banyak juga ya mbak penderitaannya :)

    BalasHapus
  8. saya belum pernah Mbak, pengen tahu rasanya juga sih :)

    BalasHapus
  9. aku dan Faiz penggemar Commuter Line, dengan catatan bukan hari kerja, heheee. Etapi jadwal kamis besok aku naik CL untuk ke Pulo gadung jew...semoga gak berhimpitan yaaa...

    BalasHapus
  10. emang paling gak enak ya kalau berdesak-desakan di kereta.
    di busway aja nggak enak, apalagi di kereta :")

    BalasHapus
  11. Iya betul banget tuh.. Waktu itu saya juga pernah naik kereta dan deritanya sama persis seperti yg diceritakan Mbak Titis :))

    BalasHapus
  12. Iya betul banget tuh.. Waktu itu saya juga pernah naik kereta dan deritanya sama persis seperti yg diceritakan Mbak Titis :))

    BalasHapus
  13. tempat kerjaku juga jauh dan aku juga pelanggan angkot...jadi aku ngerti banget nih rasanya....semua yang diceritain diatas, tapi kadang sesama pelanggan angkutan umum kitajadi ikrib para emak-emak pekerjanya...abis hampirsetiap hari ketemu

    BalasHapus
  14. bener banget itu mak, sering lihat hal kaya gitu di tv karena saya di luar kota. Mak tetep termasuk hebat kuat dengan segala ditme di CL, saya aja sekali naik busway saat jam berangkat kantor rasa pusing tiba-tiba dan mau pingsan akhirnya halte brikut saya turun dan memilih taksi. Kayaknya belum sanggup hidup dijakarta saya, masih udik..hehehe

    BalasHapus
  15. Aku pernah beberapa kali naik CL, tapi nggak setiap hari juga. Yah, begitulah, sudah kebayang suasana naik CL. Sabar & tetap semangat ya... :)

    BalasHapus
  16. aku belum pernah naik sekalipun uda lebih dari 3 taun di sebrang jakarta..
    btw, gimana kondisinya kalo lagi banjir? masih jalan kah?
    semangat ya Titissss... ibadah :)

    BalasHapus
  17. Eih... saya mencari tombol like ... hehe kebiaaan di FB.

    Saya belum pernah naik kereta kommuter.Hm . . . tapi di daerah Jatim saya perhatikan, penumpangnya nggak banyak .. ....

    BalasHapus
  18. tapi sehat ya, bisa sekalian olahraga lari.. lumayan cari keringat

    BalasHapus
  19. saya dulu naik komuter di surabaya gak sesesak yang mbak ceritain itu kayak di jakarta... hehe

    BalasHapus
  20. saya belum pernah naik kereta komuter, mungkin sama kali ya dengan bus way kondisinya kalau pas jam sibuk

    BTW maaf sebelumnya ya neng, melihat warna-warni mencolok di blog ini saya jadi pusing....

    BalasHapus
  21. Ho ho... saya pengguna setia CL mbak!! Walaupun menderita yang penting ga macet *masih ada point plus nya* :)

    BalasHapus
  22. sama aja berdesakan , sama macet ... samasama sempitnya ... hahaha .. mau begimana harus milih

    BalasHapus
  23. OMG... ga bisa bayangin kondisinya -__-. Aku cukup beruntung krn diksh fasilitas vocer taxi utk berangkat dan pulang kntor.. 8thn tinggal di JKT, sekalipun blm prnh nyobain naik commuter. Abisnya dgr dr cerita temen kok ya serem sendiri :D Kalopun lg ga naik taxi, aku mndingan milih ngojek deh mba drpd naik itu -__-

    BalasHapus
  24. Klo di duri, nunggu lama di tasiun dan ga ada kursinya hihihi

    BalasHapus

Yuk berkomentar di blog saya, saling berbagi informasi untuk orang lain juga :)

Terima kasih sudah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya di blog kalian ya :D