Pengikut

Musim Kemarau Telah Tiba, Waspadalah !

Awal September ini kita dikejutkan oleh musim kemarau telah tiba, seingat saya seharusnya bulan September ini adalah musim penghujan. Sewaktu saya menginjak bangku sekolah dasar, Guru saya mengatakan jika bulan yang akhiran ( ber ) itu menandakan musim penghujan telah tiba, namun sekarang pada kenyataan musim kemarau yang tiba. Btw, iya kan ya bulan yang akhiran ber itu pasti musim penghujan kan ya? Saya lupa-lupa ingat nih hehehe.



Jika menonton berita televisi, maka sekarang kita para penonton disajikan dengan berita tentang musim kemarau, bahkan di daerah di Jawa Tengah sudah terkena dampaknya yaitu sawahnya pada kekeringan. Jika dibandingkan dengan daerah Jakarta sendiri, sebenarnya keadaannya tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah yang mengalami kekeringan tersebut. Begini maksud perincian saya, cuaca Jakarta untuk saat ini sedang berada di masa-masa yang panasnya menyengat, sadarkah oleh kalian atas fenomena alam ini? Bahkan saat siang hari, suasana Jakarta mencapai suhu diatas 34o derajat celcius. Dan sudah hampir beberapa minggu – sebulan ada beberapa daerah di Jakarta tidak terkena guyuran hujan, sehingga menyebabkan jalanan menjadi gersang. Lalu apakah hubungannya dengan musim kemarau? Dari cuaca Jakarta yang panas itu menyebabkan beberapa menjadi gersang, bahkan tanpa kalian sadari masih ada loh “pinggiran” Jakarta yang menggantungkan hidupnya dengan bertani, istilah masih bercocok tanam. Nah, para petani ini bernasib sama juga seperti mereka petani yang ada di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur yang mengalami kekeringan. Bisa kalian bayangkan, jika asupan air atau irigasi tempatnya mengering? Sawah mereka kekeringan, bahkan bisa menyebabkan gagal panen. Namun, untuk daerah Jakarta, selama ini masih tercukupi asupan air, jika masih di “supplay” dari “pusatnya”. Maksud dari pernyataan supplay dari pusat, adalah jika stok keberadaan air masih dalam zona aman. Gimana jadinya, jika waduk yang selama ini menjadi tempat menampung air itu kekeringan? Atau puncak mata air itu tercemari? Ya, tanpa disadari kita mengalami kerugian seperti warga yang lainnya.



Jadi, bagi kita yang berada di kota yang dimana masih tersedia air sebaiknya kita menyikapi dengan sehemat-hematnya, misalnya mandi menggunakan air secukupnya saja. Kalaupun sedang menyuci sebaiknya cucian banyak namun debit air yang digunakan tidak terlalu banyak, ibartanya jumlah cucian banyak namun menggunakan air yang secukupnya. Biasanya kita kan sering membuang air yang tidak seperlunya dibuang eh malah dibuang begitu saja. Selagi, masih ada “sumber air” yang bisa memasok kebutuhan rumah tangga di Jakarta sih tidak masalah, namun pernah kah kalian memikirkan jika sumber air pasokan itu kering, atau sedang dilanda masalah? Pasti kita tidak bisa juga kan sehari tanpa minum, apalagi bagi mereka yang menggantungkan minuman dari salah satu produsen air tersebut. Apakah di Jakarta, masih ada sumber air dari bawah tanah? Misalnya menggunakan pompa? Sudah langka sekali !



Hmm...sebenarnya jalan keluar untuk mengatasi kekeringan itu biasanya dengan membuka daerah resapan air lagi atau mengebor tanah untuk digunakan sebagai sumur baru, biasanya dengan cara mengebor sumur baru agar bisa ditemukan percikan air. Atau para petani, bisa memanfaatkan pompa air jika waduk tersebut tidak bisa mengairi sawahnya. Dan jalan terakhir adalah dengan meminta kepadaNYA agar diberikan hujan. Ya, shalat untuk meminta hujan adalah jalan terakhir yang ditempuh oleh mereka petani, supaya Sang Pencipta menurunkan tetesan air yang membasahi sawah mereka (hujan).


Musim kemarau menyebabkan sumber pencaharian mereka secara pendapatan berkurang, gagal panen dan susah mendapatkan air bersih yang biasanya digunakan untuk minum, mandi atau mencuci. Kalau menurut kalian, ada cara lain gak sih untuk mengatasi kekeringan yang sedang melanda Indonesia ini? Siapa tahu, komentar kalian bisa membantu mereka yang sedang mengalam kekeringan. Yuk berkomentar dan sharing :)


14 komentar:

  1. masalah alam seperti ini akan mengkaji banyak aspek. fufu
    terutama dari penggundulan hutan, pemanasan global, pembuangan limbah, penggunaan sumber daya alam yang melewati batas. haiyaah
    pokoke uakeh :D

    tetapi kita bisa memulai dari diri sendiri dengan menhemat air, menanam pojon-pohon di sekitar rumah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, salah satu penyebab kekeringan karena pengundulan hutan ya -,-

      Betul, intinya dimulai dari diri sendiri dan sekitar kita dulu :)

      Hapus
  2. ya begitulah cuaca peranannya amat penting dalam pembuatan kebijakan pembangunan pertanian maupun perikanan. hehe :DD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, cuaca kadang menguntungkan kadang juga merugikan :D

      Hapus
  3. Betul banget mbk. seharusnya kan sekarang itu sudah waktunya musim penghujan sekarang cuaca sudah sulit untuk di prediksi lagi... dulu waktu saya sekolah musim hujan itu kan dari bulan oktober - maret hehheeee
    Nice post, follow ke 74 aku tunggu follow back nya yah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ! Tugas manusia sekarang harus lebih memperhatikan lagi keadaan alam yang sesungguhnya :D

      Hapus
  4. Saya juga masih bingung dengan cuaca saat ini Mbk.

    Di beberapa daerah kekeringan namun daerah yang lainnya banjir.

    Turut prihatin dengan kondisi yang sekarang ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, sekarang cuaca tidak bisa diprediksi. Semoga daerah kekeringan diberikan air hujan biar basah lagi dan untuk daerah yang kebanjiran semoga cepat surut :D

      Hapus
  5. Saya jadi inget waktu masih tinggal di Tangerang. Pas musim kemarau, air cuma ada pas pagi. Kalo udah siangan, apalagi sore, mampet. Jadinya mandi ya cuma pagi aja dan itu rasanya nggak enak banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, mbak soalnya sumber air sedikit atau bisa juga di daerah Tangerang daerah tinggi jadi airnya tidak mengalir dengan lancar.

      Hapus
  6. di bali cuaca nggak jelas nih, awan mendung tapi hujan gak turun-turun. manusia suka mempermainkan cuaca dengan laser dlsb, ntar giliran alam murka, repot kita. tapi kok gak kapok2 ya.

    salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, cuacanya lagi gak bersahabat :|

      Salam kenal kembali ^^

      Hapus
  7. Untuk daerah sekitar khatulistiwa yang memiliki dua musim, kemarau dimulai April dan berakhir Agustus, sedangkan penghujan di awal September hingga Maret dengan puncaknya adalah bukan Januari. Kenapa akhir-akhir ini justru terjadi pergeseran waktu munculnya kedua musim tersebut, ini akibat gangguan alam, akibat pemanasan global dan rotasi bumi. Matahari sudah mulai bergeser ke arah utara, jika ini berlangsung lama, suatu saat, Matahari akan terbit dari utara dan makin nampak bergeser ke arah barat. Saat matahari nampak terbit dari barat inilah sebagai tanda dari Kiamat. Logiskan Agama kita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, pemanasan global mempengaruhi perubahan musim. Maka, kita sebagai manusia harus membiasakan diri menanam pohon, yuk !

      Hapus

Yuk berkomentar di blog saya, saling berbagi informasi untuk orang lain juga :)

Terima kasih sudah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya di blog kalian ya :D